Kisah si Payung Baru

Hari ini lumayan mendung, tak se-humid dan panas seperti kemarin.

Emak sampai di Dorval Circle, kemudian mengambil tempat, berderet menunggu bis. Gerimis mulai menitik satu satu, mulai menderas.

Emak mengeluarkan payung lipat dari backpack, payung baru yang dibelikan oleh bapaknya Khansa seminggu lalu, setelah payung lama emak ketinggalan di bis hehe. Waktu itu payung basah, nah ketika masuk bis, dan dilipat, oleh emak tak dimasukkan ke dalam backpack, alih alih dicantelin dekat jendela. Di bis ketemu Ann, teman keluarga kami yang suka datang ke Sunday dinner. Ngobrol seru, pas waktunya turun, lupa deh sama si payung.

Bis pun melaju, menyusuri bord du lac, kemudian des sources boulevard. Hujan kadang deras, kadang gerimis. Matahari sempat muncul sebentar, kemudian tertutup awan kembali.

Di dalam bis emak melihat ibu muda itu, bersama pasangannya, dengan tiga anaknya. Satu gadis umur sekitar 8 tahun, anak laki laki sekitar empat tahun, dan gadis kecil yang kelihatannya belum genap 2 tahun, duduk di stroller. Si gadis kecil itu pun akhirnya tertidur, setelah sebelumnya  sempat bermain peek a boo dengan salah seorang penumpang.

Setopan bis, setelah perempatan Brunswick dan Des Sources. Si ibu sibuk siap siap turun, hujan diluar menderas. Si ibu mendekati pintu belakang bis, melewati tempat duduk emak. Emak menawarkan payung, si ibu tersenyum, terima kasih katanya, sambil kemudian menolak dengan halus.

Si Ibu, mendorong strollernya turun dari bis, sementara si Bapak menggandeng tangan bocah laki-laki kecil, si gadis sulung berjalan sendiri. Mereka semua berjalan gegas, memasuki halte bis, berteduh. Mungkin menunggu hujan reda.

Bis melaju. Berhenti kembali, di setopan bis sebelum perempatan Salaberry dan Des Sources. Pintu depan dan belakang menjeplak terbuka, penumpang pun naik dan turun. Aturannya, penumpang hanya boleh naik dari pintu bagian depan, setelah penumpang yang turun halte itu  turun semua. Sementara pintu belakang, hanya untuk menurunkan penumpang. Kecuali ada keadaan darurat, kadang sopir memperbolehkan penumpang naik dari pintu belakang.

Mata emak menangkap sosok tua itu lagi, yang sudah sering emak temui menaiki bis di jam-jam yang sama seperti saat ini. Usianya mungkin sudah lebih dari 75 tahun. Berjalan tertatih ditopang sebuah tongkat, memegang sebuah tas plastik, mengenakan jaket tipis dan bertopi. Garis-garis wajahnya dan keriput tangan itu menunjukkan usia yang tak lagi muda.

Seorang bapak yang duduk paling depan, berdiri dan memberikan kursinya untuk si kakek. Kursi itu memang haknya. Diperuntukkan, untuk orang tua, ibu hamil atau orang-orang yang membutuhkan.

Bis kembali melaju, berhenti, menaikkan dan menurunkan penumpang. Titik titik hujan itu makin kerap.

Perempatan Des Sources dan Pierrefonds. Bis berhenti, penumpang turun. Bergegas-gegas mencoba meminimalisir terkena hujan bagi yang tidak membawa payung.

Lampu tanda menyeberang belum menyala. Emak mendekati kakek, menawarkan payung. Si kakek tersenyum mengiyakan. Maka emak pun memayungi kakek. Emak masih kebagian sedikit kog, basah sedikit tidak apa-apa.

Lampu tanda menyeberang menyala, emak berjalan pelan disamping kakek, yang tidak bisa berjalan cepat. Sampai lampu tanda menyeberang habis, kami berdua masih ada ditengah jalan. Untunglah mobil mobil itu mau menunggu barang sebentar.

Sampai diseberang jalan, emak bertanya, kakek mau menyeberang jalan lagi? (Kali ini yang lurus dengan Des Sources). Dia bilang iya.  Emak bilang, ok ayuk saya antar menyeberang lagi. Maka kami pun berjalan pelan, menyeberang. Sampai di seberang jalan kakek bertanya, kamu tinggal dimana? Di Pierrefonds? Emak jawab iya. Emak pun bertanya apakah kakek akan jalan terus sepanjang trotoar Des Sources. Dia bilang iya. Emak menawarkan si payung untuk kakek, tapi ditolaknya, katanya dia sudah punya empat di rumah🙂. Emak bilang ayuk saya antar kek, si kakek bilang tak usahlah, rumahmu di Pierrefonds. Hujan nya tidak banyak, sedikit air tidak apa apa.

Akhirnya emak membiarkan kakek berjalan menjauh, di trotoar. Emak memandang sekilas punggung itu. Ada yang perih di hati ini. Perasaan bersalah, tak mengantarkan kakek pulang sampai ke rumahnya yang entah dimana. Dia pasti akan basah kuyup.

Emak menyeberang kembali ke arah Tim Hortons, tadi pagi janjian ketemu disana untuk kemudian ke grocery. Menunggu Khansa  dan bapaknya, hati emak masih galau. Harusnya tadi bisa mengajak kakek menunggu disini, kemudian mengantarnya pulang, naik mobilnya bapaknya Khansa.

Sepertinya harus beli payung satu lagi, payung lipat cadabgan  yang bisa ditawarkan ke orang yang butuh ketika hujan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

3$

Gerimis pagi hari.

Saya sudah duduk manis di dalam bis. Bertemu wajah wajah yang tak asing lagi, yang sebagian besar adalah orang orang yang sama, pengguna transportasi bis umum. Sebagian yang lain adalah random penumpang yang hanya sekali dua kali saya lihat.

Bis melaju. Perkiraan cuaca hari ini memprediksi gerimis akan berlangsung sepanjang hari. Menyiram pucuk pucuk ranting yang kehilangan daun selama musim dingin.

Di salah satu halte bis berhenti, penumpang turun dan naik.

Seorang ibu, ketika memasukkan tiket bis, bunyinya teettt…, yang artinya tiketnya  bermasalah. Bisa jadi karena memang tak ada isinya, atau durasi penggunaannya sudah habis. Tiket satuan bis biasanya hanya berlaku 2 jam. Ibu itu punya tiket kertas warna merah putih, tiket yang di dapat ketika kita bayar dengan uang cash.

Saya berpikir, paling sama sopirnya dibiarin naik.

Sopir bis disini perlakuan terhadap penumpang bis macam-macam. Ada yang baik, misalnya membiarkan penumpang yang kartunya bermasalah,   membukakan pintu dan membiarkan penumpang masuk, ketika bis sudah beranjak dari tempat menaikkan penumpang, tapi masih menunggu lampu lalulintas berubah warna, atau bahkan saya pernah melihat, seorang anak muda yang uangnya kurang tetap dibolehkan naik, bahkan diberi tiket yang artinya dia akan bisa naik bis yang lain jika dia perlu.

Kali ini, yang ditemui ibu itu rupanya sopir bis yang saklek taat aturan. Ibu itu tak diperbolehkan naik jika tak punya uang untuk membayar tiket. Malang rupanya, si ibu punya uang, tapi bukan pecahan koin. Sementara mesin tiket bis hanya bisa menerima pembayaran pakai koin.

Si ibu melambaikan uang pecahan 10$, bertanya pada penumpanga bis jika ada yang punya koin untuk ditukar. Penumpang bagian depan yang dekat ibu itu, tak ada yang menyahut, mungkin karena memang tak punya uang receh, atau punya tapi tak peduli.

Saya mencari cari uang koin di tas, surprise ketika menjumpai ada koin disana, sebelum akhirnya sadar uang itu kembalian dari Marché Syifa kemarin.

Saya melambaikan tangan bilang punya koin. Ibu itu berjalan ke arah saya duduk. Mengangsurkan uang 10$ nya. Saya menyodorkan pecahan koin ditangan saya. ” take how much you need”. Dia ambil 3$. Saya bilang, ” you will need more, the ticket is $3,25. Dia bilang dia punya 25 cent.

Uang 10$ itu masih diangsurkannya. Saya bilang its ok, saya tak cukup punya koin untuk ditukar, ” you can keep your money”.

Si ibu kaget, tersenyum dan berterima kasih berkali kali. Kemudian kembali ke bagian depan bis membayar tiketnya.

Pagi hari, gerimis, matahari masih enggan menampakkan sinarnya, alhamdulillah bisa membuat seorang ibu tersenyum.

Bahagia itu sederhana, ketika engkau mau dan bisa berbagi sedikit atau pun banyak dari yang kau punya🙂.

Posted in cerita dari montreal | Leave a comment

Cerita Sekeping Loonie

April 2014 kemarin Khansa resmi mulai mengaji di Masjid dekat rumah, belajar membaca Qur’an. Sebetulnya, di rumah sudah diajari sendiri oleh emaknya, dengan memakai sistem Iqro yang bukunya dibawa dari Indonesia.

Pertimbangan kami mengirim Khansa ke Masjid untuk belajar Qur’an (selain untuk belajar membaca Qur’an sendiri) adalah supaya dia bergaul dan punya lebih banyak teman muslim, mencintai masjid dan terbiasa dengan aktivitas di masjid.

Jadi sekarang tiap sore, pukul 5:30 Khansa akan diantar oleh bapaknya ke Masjid. Setelah itu, bapaknya nungguin di masjid sampai Isya’ atau kadang pulang habis maghrib.

Tugas menjemput Khansa pun dibagi dua, bapaknya sama emaknya. Ketika giliran bapaknya yang mengantar Khansa pulang, maka sebelum meninggalkan masjid, bapaknya akan menelepon ke rumah, meminta emaknya Khansa menunggu di halaman, karena bapaknya Khansa cuma ngedrop saja, setelah itu balik lagi ke masjid.

Ketika tiba giliran emaknya yang menjemput, maka pukul 7:15 makkhansa akan berjalan ke masjid, dan menunggu Khansa selesai. Kami pun pulang jalan kaki. Jarak masjid dengan rumah dekat sekali, berjalan kaki tidak sampai 10 menit. Itu kalau emak berjalan sendiri.

Kalo berjalan dengan Khansa, bisa sampai setengah jam kalo dia dibiarkan dengan segala keingintahuannya. Ada burung, bakal dikejarnya. Ada bunga yang mulai bersemi dan memunculkan daunnya, dia akan duduk dulu mengamati dan berkomentar macam-macam. Ada bebatuan disamping masjid, dia akan memilih-milih dan memegang megangnya, dan berkata bolehkah dia mengambil satu, sambil berkata “I will keep it for my collection” haha. Setelah dijelaskan dia tidak boleh mengambil batu itu, dia akan beralih pada daun,  mengomentari bentuknya dll. Ada dandelion kering, dengan antusias akan dipetik dan ditiup, sampai brindil habis pollennya.

Satu sore, kami pulang dari masjid. Khansa asyik skipping dan berlari, lalu berhenti melihat sebuah akar bekas pohon tumbang yang entah kenapa diberi warna orange ngejreng. Khansa duduk sambil berkomentar ini itu.

Emak berdiri di dekat Khansa, tapi pandangan ini tertuju pada seseorang yang berjalan di bike lane, bukannya di sidewalk. Tubuh nenek ringkih itu berjalan tertatih, bersamanya dua buah tas plastik penuh belanjaan, dan sebuah tas belanja yang ada rodanya.

Rupanya dia tak kuat membawa semuanya. Jadi dia meninggalkan tas keretanya, hanya membawa dua tas plastik di tangan kiri dan kanannya, berjalan sekitar 5 meter, meletakkan tas tersebut teronggok begitu saja, dan dia kembali untuk mengambil tas keretanya.

Emak bilang ke Khansa, ” Khansa, ayo bantu nenek itu”. Bocah itu nyeletuk, “You want to  help her?”. Emak menjawab, ” Iya, ayo”.

Kami menghampiri nenek itu, emak berkata, ” Do you need any help?”. Nenek itu menoleh, tampak agak terkejut. Akhirnya menerima tawaran kami, setelah sebelumnya berusaha menolak. Nenek itu tinggal di gedung apartemen yang bersebelahan dengan gedung dimana kami tinggal. Ketika sampai di lobi depan, ternyata dia tidak memiliki kunci. Untunglah bisa dibuka dengan kunci makkhansa.

Ketika makkhansa menawarkan ingin mengantar sampai didepan pintu, dia menolak, mungkin tak ingin kami tau dimana dia tinggal.

 

 

Setelah membantu menaikkan barang barang belanjaannya sampai ke atas, kami pun berpamitan.

Tak disangka, tangan ringkih itu merogoh kantungnya dan mengeluarkan sekeping uang dollar dan diangsurkan pada emak.

Katanya, “please terimalah, ini sebagai rasa terima kasih, kamu sudah menolongku”.

Emak menolak tapi si nenek tetap maksa. Akhirnya uang itu diberikannya pada Khansa.

Kami pun akhirnya pulang.

Nasihat emak pada Khansa, “tolonglah siapa saja orang yang butuh pertolongan, jangan pernah mengharapkan imbalan apa pun”.

image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Satu Sore di Dorval Circle

Empat limabelas sore hari.
Minus dua derajat, angin menyapu kencang.

Turun dari bis, emak menutupi kepala dengan hodie winter coat. Tak henti bersyukur, bulan Maret ini suhu udara sudah jauh lebih hangat dibanding bulan sebelumnya. Setidaknya tidak minus double digit  lagi. Lapisan sweater pun tak perlu dikenakan. Winter coat dan winter boots masih harus dikenakan karena suhu udara pagi hari biasanya masih minus sekitar 10 derajat, dan akan merangkak naik siang hari menjelang sore. Dan salju yang kadang masih turun, maka akan sangat berbahaya jika tidak mengenakan winter boots.

Berjalan menuju pemberhentian bis nomor 209. Suara kereta api bergemuruh dikejauhan, kemudian rangkaian kereta kontainer muncul melintas diantara Trudeau Airport dan Dorval Circle. Ratusan kontainer yang akan menuju depot terdekat, CN Tascherau dan CP Lachine, yang kemudian akan dikirimkan ke berbagai penjuru kota di wilayah propinsi Quebec, bahkan menyeberang ke US.

Tak lama setelah itu, kereta penumpang mendekat, menurunkan dan mengambil penumpang di Stasiun kereta api Dorval.

Dorval Circle (terminal bis), Dorval stasiun kereta api, dan Trudeau International Airport, saling terhubung yang terletak di kawasan yang sama. Sangat memudahkan orang-orang pengguna sarana transportasi umum.

Relatif mudah memang untuk mencapai bebagai pelosok di Montreal. Biasanya sebelum ke tujuan baru, emak akan google dulu, alamat tujuan diketik dan akan muncullah beberapa alternatif baik itu menggunakan, kereta, bis atau pun metro, lengkap dengan jam-jam berangkat yang bisa dipilih.

Suara bergemuruh kembali terdengar, pesawat yang sedang take off, membubung tinggi ke angkasa, mengarungi langit.

Seringkali emak berpikir, kapan ya bisa mudik lagi🙂.

Antrian orang yang menunggu bis 209 makin memanjang, sebagian dari mereka, adalah orang orang yang sama yang mak Khansa lihat tiap hari.

Bis datang orang-orang pun naik, teratur satu persatu. Takbada gontok-gontokan.

Setelah penumpang terakhir, mbak sopir menutup pintu dan bis pun mulai melaju.

A demain …🙂

image

image

image

image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Poulet Bronzé

Emaknya Khansa sangat suka ayam goreng halalnya Popeye di Toronto, ayamnya lembut, juicy dan lapisan tepung nya tebal, agak berasa pedas-pedas sedikit, trus kentang gorengnya juga berbumbu, dan biskitnya juga yummy sekali,  sebelum akhirnya terjadi tarik menarik kepentingan, antar pemilik francise dan pemilik restoran. Mereka ingin mengganti bahan baku ayamnya, dengan ayam halal?, yang disembelih dengan mesin.

Tahunya, suatu saat bapaknga Khansa mau ke Toronto, otomatis minta oleh-oleh ayam gorengnya Popeye. Eh dijawab, dah gak halal lagi, karena suppliernya ganti, ayam dipotong pakai mesin.

Udah deh akhirnya putus harapan makan ayam goreng hehe. Karena kalo benar ayamnya disembelih pakai mesin, operatornya bagaimana? Muslim atau bukan, dll dll, akhirnya utk lebih amannya, Popeye dicoret dalam daftar restoran hu hu hu.

Nah beberapa waktu lalu, bapaknya Khansa sebagai sumber informan, bilang, ada restoran ayam goreng halal di CĂŽte Vertu.

Emak langsung riang gembira, berharap bisa makan ayam goreng ala KFC lagi. Maka, di weekend yang cerah, matahari bersinar terang –  tapi jangan tertipu, suhu udara tetep duingin sekali hehe, kami bertiga dengan semangat meluncur menuju CĂŽte Vertu.

Hihgway 40 lumayan sepi, angin mendesau desau, sekitar 30 menit sampailah ke restoran yang dituju. Sempat ragu sebentar, jangan jangan tutup, sebelum akhirnya kami menemukan pintu masuknya haha.

Di dalam restoran, seorang anak muda dengan sigap mencatat pesanan. Seorang yang lebih tua, mendatangi kami dengan sepiring kecil tester ayam goreng yang masih panas🙂.

Akhirnya ngicipin ayam deh, enakkkk🙂.

Pesanan kami waktu itu 15 potong ayam goreng, soft drink, sama makaroni salad.

Pulang ke rumah, diperjalanan, cuaca makin buruk, angin makin kencang dan salju berterbangan kemana mana.

Alhamdulillah kesampaian makan ayam goreng🙂

image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menanam Bunga

Emak mengajak Khansa menanam bunga.

Sehari sebelumnya beli dulu bibit bunganya, beli dari Dollarama saja, murah meriah, hingga kalo gagal tidak rugi banyak-banyak. Secara emak tak begitu pandai tanam menanam. Duluu…sekali waktu kecil, sering juga sebenarnya menanam bunga. Biasanya pas hujan, emak dan teman-teman pergi ke tetangga yang mempunyai jenis bunga tertentu dan meminta.

Ada tiga jenis bunga yang ditanam emak dan Khansa di dalam 5 pot bunga. Dahlia, Iri Hollandica dan Triteleia Queen Fabiola. Dari gambarnya sih bunga-bunganya bakal berwarna warni, kuning, putih dan ungu. Itu kalo berbunga loh ya🙂

Membagi rata tanah ke dalam pot pot bunga, bibit pun dimasukkan, disiram air, beres deh. Pot-pot tersebut diletakkan di balkoni, supaya bias terkena banyak cahaya matahari.

Beres menanam, tinggal bersih-bersihnya, tanah berceceran dimana-mana, secara Khansa dengan semangat 45 menggunakan sekop  plastiknya untuk membantu emak, memindah tanah kesana kemari.

Pagi hari berikutnya, bangun tidur, setelah dari kamar mandi, Khansa semangat melongok keluar. “Kog bunganya belum tumbuh?”. Emak tertawa geli dan menjelaskan panjang lebar bahwa tumbuhan tidak tumbuh dalam semalam. Selesai menjelaskan, selang beberapa menit, “Can I watering my flowers”. Again penjelasan panjang lebar tentang menyiram tanaman dan kenapa tidak perlu menyiram terlalu sering.

Emak sibuk di dapur, Khansa bilang, “Can I play in  the balcony?”. Emak pun membolehkan.

Sore hari emak keluar, melihat pot-pot bunga yang baru kemarin ditanami. Oh la la…beberapa pot, bibitnya malah ada di permukaan tanah, sementara yang lain, tanahnya bekas digali lagi.

Emak bertanya pada Khansa, yang takut-takut mengakui, bahwa dialah pelaku penggalian itu.

Ternyata asyik juga bertanam dengan Khansa, banyak yang harus dijelaskan padanya🙂

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Winter Note

Finally spring is here. Although the temperature still kind of chilly. Three days ago I still wearing my long winter coat😩

Last winter was a long winter. Not too much snow actually, but had many cold days. I had to wear layers of clothes, tuque, gloves and still feeling really cold. And the worst was, freezing rain during the night, followed by rain in the morning. Winter boots only was not enough to make you walk easily. Side walk became so slippery.

Now is getting warmer day by day, its time to do outdoor activities, going to the park, before the cold snowy days are back🙂

Posted in Uncategorized | 1 Comment